Oleh : Muhammad Hafidz Kelas IX Salaf 2
Suatu hari, Daffi, seorang santri kelas 9 SMP Al-Furqan Madrasatul Qur’an, menerima sebuah tanggung jawab besar. Ia terpilih menjadi utusan sekolah untuk bertanding dalam ajang perlombaan keagamaan. Perasaan bangga bertaut dengan rasa cemas akan beban amanah yang harus dipikulnya.
Lalu, hari perlombaan pun tiba. Daffi berangkat menuju lokasi acara bersama dua rekannya, Ziggy dan Abas. Mereka mendapati pendampingan penuh dari Pak Habibi, wali kelas mereka, yang mengantar langsung menggunakan kendaraan pribadinya.
Namun, kendala mendadak menghampiri di tengah perjalanan. Selain kelengkapan aksesoris lomba mereka tertinggal di sekolah, mobil yang ditumpangi mendadak mogok karena kehabisan bahan bakar. Kepanikan sempat Daffi, Ziggy, Abas, dan Pak Habibi. Sementara itu, waktu perlombaan semakin mendesak.
Tetapi, pertolongan datang di saat yang tepat. Salah seorang rekan guru Pak Habibi bersedia membantu dengan membawakan barang-barang yang tertinggal sekaligus menyuplai bahan bakar ke lokasi mobil mereka berhenti.
Hingga akhirnya, setelah mengucap terima kasih yang mendalam kepada sang guru, mereka dapat melanjutkan perjalanan dan tiba di lokasi perlombaan tepat waktu. Melalui persiapan matang, fokus tinggi, serta kerja keras bersama, Daffi dan timnya berhasil tampil memukau hingga menyabet gelar Juara 1 pada ajang tersebut.
Dari kisah Daffi, Ziggy, Abas, dan Pak Habibi, kita bisa mengambil banyak pelajaran. Bahwa, hambatan dan rintangan di tengah jalan sering kali hadir untuk menguji ketenangan serta kekompakan sebuah tim sebelum meraih kejayaan. Sukses yang diraih Daffi dan kawan-kawan tidak hanya lahir dari kemampuan individu, melainkan juga dari sinergi, dukungan para pendidik, serta sikap pantang menyerah dalam menghadapi kendala yang tak terduga.




