Oleh : Muhammad Hasanudin Al Farraby Kelas IX Salaf 2
Suatu hari, ketika sedang berjalan melintasi gang di dekat rumahnya, mata Hasan tertuju pada sebuah novel yang tergeletak di tanah. Kondisi buku tersebut masih sangat bersih dan tampak baru. Didorong rasa penasaran, Hasan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan pemiliknya. Karena tidak ada seorang pun di sana, ia memutuskan untuk membawa buku itu pulang.
Lalu, setibanya di rumah, Hasan mulai membaca lembar demi lembar novel tersebut. Ceritanya yang begitu menarik membuat Hasan terpikat, hingga ia menyimpannya dengan rapi di dalam lemari pakaian pribadinya.
Namun, selang beberapa hari, Hasan membawa novel tersebut ke sekolah. Teman-teman sekelasnya yang melihat buku itu menyambutnya dengan antusias dan bergantian membacanya karena alur ceritanya yang seru.
Tetapi, di tengah keramaian teman-temannya yang asyik membaca, Hasan justru terdiam dan termenung. Hatinya merasa tidak tenang; timbul rasa bersalah dan takut akan dosa karena telah mengambil serta memanfaatkan barang temuan yang bukan hak miliknya.
Hingga akhirnya, untuk menenangkan nuraninya, Hasan membuat sebuah poster pengumuman kecil disertai ucapan permohonan maaf yang tulus. Ia menempelkan poster tersebut tepat di tiang ujung gang tempat ia menemukan buku itu, berharap sang pemilik asli dapat membaca dan menghubunginya.
Dari kisah Buku di Ujung Gang ini, kita bisa belajar. Bahwa, kejujuran hati nurani adalah benteng moral terpenting dalam diri seseorang. Kisah Hasan mengajarkan kita bahwa kesenangan sesaat atas sesuatu yang bukan milik kita tidak akan pernah memberikan ketenangan sejati. Keberanian untuk mendengarkan kata hati dan berusaha memperbaiki kesalahan adalah wujud nyata dari keutamaan akhlak yang patut diteladani.
*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.




