Oleh : Mahir Alfaruq Daizzulhaq Kelas VIII Mumtaz
Tentu aku cukup senang. Doa dan harapan terus ku panjatkan agar setelah lulus dari Perguruan Tinggi nanti. Aku bisa membahagiakan kedua orangtua-ku. Akan tetapi, ada juga rasa sedikit bersedih di waktu yang bersamaan.
Karena aku harus berpisah, meninggalkan kedua orangtua-ku di kampung. Tapi tak mengapa, semuanya demi cita-cita.
Kumulai perjalanan ini dengan mendatangi stasiun kereta, setelah 20 menit yang lalu aku berpamitan dan meminta restu kepada kedua orangtua-ku. Kereta telah tiba, perlahan aku memasuki gerbong dan mencari mencari tempat duduk sesuai nomornya. Usai duduk di bangku yang sesuai, kereta mulai berjalan.
Aku duduk dengan sedikit termenung dan menghadap jendela. Terlihat hamparan sawah dan beberapa bukit yang hijau dan tenang, menjadi teman setiaku dalam menempuh perjalanan ke Perguruan Tinggi selama lima jam.
“Aku berharap, di Ibukota keadaan menjadi lebih baik. ” Inilah kalimat yang selalu kujadikan motivasi.
Sejak kecil hingga dewasa tinggal di desa dan dalam pemerintah yang tak adil, aku masih bertanya-tanya. Seperti apa dan bagaimana kesuksesan itu ?.
Sampai aku berpikir : “Apakah kesuksesan itu nyata ?”.
Singkat cerita, aku menjalani kuliah dengan bekerja di sebuah perusahaan sebagai staf administrasi. Akan tetapi beberapa kendala pekerjaan mulai muncul ketika aku mengerjakan skripsi.
“Taka, maaf atas keputusan saya ini. Namun dari performa kerja kamu yang semakin menurun, saya putuskan bahwa kamu dipecat mulai hari ini. Dan sekarang adalah hari terakhir kamu bekerja. Nanti kamu ke ruangan direktuk ya. Akan saya sampaikan juga gaji dan peforma kerja kamu yang terakhir,” kata pimpinan divisiku.
Deg !!
Aku terpaku. Kaku. Dan masih tak bisa pernyataan atasanku tadi.
“Ta, ta, tapi kan pak, saya masih fokus mengerjakan skripsi kuliah. Lagi pula kalau saya dipecat saya bekerja dimana lagi. Saya juga ingin dan butuh…..”
“Cukup,” atasanku mulai menekan.
Aku terdiam seribu bahasa.
Setelah resmi dipecat, waktu terus berlalu. Hari demi hari aku selalu menyiapkan segelas Teh Hijau pahit di meja kamar kosku.




