Oleh : Abdan Eiza Karim Kelas VIII Salaf 1
Bulan Ramadan, adalah bulan yang di nanti nanti sebagian besar umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan mulia ini, kita di tuntut untuk melakukan ibadah puasa selama satu bulan penuh dan juga di sunnah kan untuk melakukan ibadah salat tarawih setiap malamnya. Serta berbagai anjuran untuk memperbanyak amal salih lainnya.
Selain itu, keutamaan bulan Ramadan ini juga sangat banyak. Diantaranya adalah waktu saat Alquran diturunkan ke bumi. Dalam hal ini, Allah telah berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 185.
Lewat firman tersebut, sudah jelas bahwa salah satu kemuliaan bulan Ramadan adalah karena diturunkannya Alquran ke dunia. Maka, sudah pantas banyak orang yang memperbanyak bacaan Alqurannya di bulan Ramadan ini.
Namun, selain sisi keutaman bulan Ramadan dan keberkahannya, ada satu sisi lain yang akan penulis kupas dalam tulisan ini. Tanpa berlama-lama mari kita mendalaminya.
Esensi Rasa Di Bulan Ramadan
Seperti yang penulis bahas di atas, bahwa di bulan ramadan umat muslim di tuntut untuk memperbanyak amalan sunah dan juga bacaan Alqurannya. Serta di anjurkan pula untuk memperbanyak sedekah kepada sesama. Namun, mungkin hanya sedikit dari kita yang belum mengetahui makna dan esensi rasa dari bulan Ramadan ini.
Sebabnya, bisa jadi, kita selama ini menganggap bahwa puasa di bulan Ramadan hanyalah sebuah perintah yang diwajibkan dari Allah. Tetapi jangan sampai lupa, bahwa ada pelajaran dan hikmah atas di wajibkannya perintah ini.
Satu sisi yang banyak orang menghiraukannya, satu sisi yang bahkan hampir terlupakan. Yaitu sisi dimana semua rasa berkumpul dan kemudian berkalibrasi menjadi sebuah bentuk syukur dan kepedulian.
Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat besar dengan hampir 17.000 pulaunya beserta banyaknya kekayaan alamnya. Bahkan, menurut beberapa hitungan penelitian, jika seluruh kekayaan alam disalurkan merata ke seluruh rakyatnya, maka masing-masing mendapatkan sekitar 8 juta perbulannya tanpa berkerja.
Bayangkan betapa kayanya negeri ini dan betapa sejahteranya masyarakat negeri ini jika hal itu bisa terwujudkan. Namun apa yang terjadi sekarang ini ?. Banyak praktek korupsi yang dilakukan oleh pejabat sehingga mengakibatkan kerugian bagi seluruh rakyat indonesia. Dan akhirnya dampak dari korupsi ini adalah meningkatnya kemiskinan yang melanda di mana-mana karena kekayaan dinikmati segelintir orang.
Menurut data yang saya baca di BPS ID jumlah kemiskinan di Indonesia pada bulan September 2025 kemarin, telah mencapai 23,36 juta orang. Ini berbanding jauh dengan pemerintah yang katanya akan menyediakan 19 juta lapangan kerja.
Contoh kemiskinan ini, juga saya baca di Kumparan.com. Di Kabupaten Bandung, ada sepasang adik dan kakak. Yaitu Yadi yang berusia 13 tahun dan adiknya Siska yang berusia 7 tahun. Mereka terpaksa harus putus sekolah dan menjadi pemulung di jalanan Bandung demi membantu ekonomi keluarganya.
Bisa kita rasakan, mereka dari pagi sampai sore memulung di jalanan hanya mendapatkan uang 20 ribu. Dari apa yang terjadi pada kehidupan Yadi dan Siska, saya menjadi bertanya, apakah ini yang dinamakan Indonesia maju ?.
Kenapa masih ada dan banyak teman dan adik-adik kita yang ada di jalanan ?. Benarkah 20245 Indonesia menjadi pencetak generasi emas ?.
Maka dari itu di momen yang mulia dan spesial ini, puasa perlu kita jadikan kesempatan memperdalam kepedulian pada sesama. Puasa dan amal sedekah bisa kita jadikan untuk memperdalam kepedulian dan doa kita agar Indonesia secepatnya membaik dan benar-benar menjadi negara maju.




